Wednesday, June 6, 2012

PERAN IBU DALAM MENEBARKAN BUDAYA KASIH DI DALAM KELUARGA, MASYARAKAT DAN GEREJA


PERAN IBU DALAM MENEBARKAN BUDAYA KASIH DI DALAM KELUARGA, MASYARAKAT DAN GEREJA

ARTI SEORANG IBU :
  • Dibutuhkan CINTA KASIH seorang ibu agar anak-anaknya betah di rumah. Menjadikan tempat kediaman itu kenangan selalu. Kemanapun kita kelak mengembara.
  •  Dibutuhkan KESABARAN seorang ibu untuk mendidik anak sebaik-baiknya. Dibutuhkan KEBERANIAN dan KEGEMBIRAAN seorang ibu untuk meneguhkan dikala anak merasa dalam kemurungan.
  •  Dibutuhkan SIKAP HATI-HATI seorang ibu untuk tidak melukai perasaan anak-anaknya. Dibutuhkan KETERAMPILAN dan DAYA TAHAN seorang ibu untuk menjahit dan menambal pakaian anak-anaknya.
  •  Dibutuhkan KERAMAH-TAMAHAN seorang ibu untuk mengampuni segala kesalahan kita. Dibutuhkan RASA PRIHATIN seorang ibu yang tunduk berdoa bagi anaknya yang celaka.
  •  Dibutuhkan KEBIJAKSANAAN seorang ibu untuk menanggapi segala keperluan kita. Diperlukan JAMINAN KEPASTIAN seorang ibu yang melalui perkataan dan tindakannya melayani kita.
  •  Dibutuhkan IMAN KEPERCAYAAN seorang ibu untuk membimbing jalan kehidupan kita. Dibutuhkan PERCAYA dan HARAPAN  seorang ibu dalam melepaskan kita dari rasa putus asa.
  •  Itulah sebabnya di seluruh dunia tidak ada orang lain atau siapapun juga yang dapat memenuhi maksud yang ditugaskan Allah selengkap yang diberikan seorang ibu kepada anak-anaknya.
Dari kata-kata bijak tersebut diatas kita dapat menganalisa bahwa konsep tentang ibu adalah :
*            Kejadian 3 : 20   ”Wanita itu ibu dari semua kehidupan”
*            Surga letaknya di telapan kaki ibu.
*            Wanita itu gerbang neraka sekaligus gerbang surga (St. Agustinus)
Dalam pengalaman praktis, kita tahu bahwa arah dasar menghayati hidup dalam menebarkan kasih adalah meneladan dan mengikuti Hidup Kristus sendiri. Dengan demikian kita dalam dan bersama Tuhan kita dapat mencintai sesama bahkan orang yang tidak kita sukai-pun.

PERAN IBU DALAM KELUARGA

Setia anggota keluarga memiliki kebutuhan dasar yang sangat kompleks meliputi fisik, pribadi, sosial dan lain-lain. Keluarga menjadi pusat utama yang penting bagi setiap individu pria dan wanita. Keluarga juga mempunyai fungsi utama yang salah satunya menjadi perantara agi tuntutan-tuntutan dan harapan—harapan dari semua individu secara total dan memperhatikan segi-segi kehidupannya, serta menjaga keutuhan persekutuan hidup antara individu merupakan peran utama seorang ibu. Mereka membentuk komunitas antar pribadi berdasarkan CINTAKASIH. Peran ibu dalam menebarkan budaya kasih menjadi prioritas tertinggi dari suatu komunitas keluarga karena kesejahteraan anggota keluarganya menjadi sangat dipentingkan. Konsekuensinya adalah bahwa wanita atau satu dengan yang lain dalam kesatuan lahir bathin yang mencakup seluruh aspek hidup jiwa, raga dan spiritual. Tiang pokok membangun keluarga ini bukan hanya laki-laki, tetapi terutama kaum ibu (perempuan) yang memelihara dan mempertahankan hidup dengan penuh kesetiaan (Peran sebagai ibu dan Istri)

Siapakah anak ?
*                Mzm 127 : 3 ”Anak itu harta warisan Allah / Pusaka Allah
*                Orang Jawa : ”Anak itu momongan ”
*                Menurut Kahlil Gibran :
”Anakmu bukanlah milikmu,
mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada dirinya sendiri.
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau.
Mereka ada padamu, tetapi bukan hakmu.
Berikan mereka kasih syangmu tetapi jangan sodorkan pikiranmu.
Sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak untuk jiwanya.
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan.
Kaulah busur dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur, melesat jauh.
Sang Pemanah maha tahu sasaran bidikan.

Dalam keluarga peran ibu sangat komplek dan sangat vital dalam menstabilisasikan kehidupan dengan memenuhi kebutuhan kasih sayang bagi pertumbuhan serta perkembangan yang sehat bagi anak-anak atau anggotanya. Seiring dengan itu dengan dasar kasih peran seorang ibu mempunyai pengaruh yang sangat penting dalam mengarahkan perkembangan kepribadiannya terhadap pembentukan identitas seorang individu dan perasaan harga diri anak.

PERAN IBU DI DALAM MASYARAKAT DAN GEREJA

Keluarga sebagai sel utama yang membentuk unit dasar dalam masyarakat, keluarga membentuk dan dibentuk olehkekuatan-kekuatan eksternal di sekitarnya. Peranan keluarga sangat besar bagi pembangunan masyarakat, maka ibu itu merupakan ”guru” utama yang menginterpretasikan kasih dalam dunia dan masyarakat bagi anak-anaknya atau keluarganya, bahkan sesamanya dalam masyarakat itu sendiri. Mereka menterjemahkan arti-arti penting yang dimiliki oleh kekuatan-kekuatan luar, serta melindungi individu-individu dari kontak langsung dengan masyarakat.

Masyarakat dengan keyakinannya, nilai-nilainya dan dengan kebiasaan-kebiasaannya menyusup ke dalam setiap segi kehidupan. Misalnya : usia anak mendapat status dewasa atau usia dimana anak boleh bekerja dan definisi-definisi tentang penyakit yang berkembang di masyarakat atau partisipasi wanita dalam ketenaga kerjaan telah mengubah fungsi-fungsi keluarga yang berkaitan dengan perannya membantu orang tua atau keluarga. Di pihak lain, keluarga mempengaruhi masyarakat, yang sebaliknya dapat mengubah norma-norma sosial dalam masyarakat. Misalnya peran egaliterian bahwa wanita telah menerima perubahan-perubahan drastis dalam cara masyarakat memandang wanita dan perannya, serta kapasitas mereka. Kontroversi-kontroversi belakangan ini yang menyangkut pelayanan kesehatan ”askeskin”, penggusuran pedagang kecil atau kaki lima, undang-undang tentang aborsi kandungan, perdagangan wanita; merupakan sebuah contoh yang jauh tentang cara keluarga berupaya memaksakan tekanan pada masyarakat akan adanya perubahan. Maka partisipasi dalam mewujudkan budaya kasih dari seorang ibu dalam masyarakat amat sangat dibutuhkan yaitu dalam upaya merubah perilaku berdasarkan nilai-nilai kristiani atai nilai-nilai Gereja guna menguatkan hidup mereka terlebih yang sedang kesesakan. Dalam hal ini berarti bahwa perlu membangun jaringan kerjasama gna meningkatkan efektifitas dalam menebarkan budaya kasih, agar tumbuh dan tersebarnya kelompok sesama yang berjiwa untuk menolong atau kelompok relawan kemanusiaan; dengan membangun komunikasi untuk menghilangkan penderitaan dan membangun solidaritas kemanusiaan dengan kesatuan iman, harapan dan kasih.
Peran ibu dalam berbuat kasih atau menebarkan kasih merupakan tugas dan tanggung jawab terhadap Gereja (diakonia), yang pelakunya adalah ibu atau pribadi yang digerakkan oleh kasih Kristus, ”Kasih Kristus menguasai kami” (2 Kor 5:14). Contoh kekhasan karya kasih dalam Gereja : seperti orang Samaria yang murah hati (Luk 10:25-37), yaitu menanggapi setiap kan kebutuhan langsung dan situasi konkret yang membutuhkan hati, kasih akan janda-janda, yatim piatu, narapidana, orang sakit dan orang miskin, sama pentingnya dengan pelayanan Sakramen dan Pewartaan Injil. Disini ada kekuatan semangat / spiritual dan moral dari ibu berhubungan dengan kesadarannya, yaitu bahwa Allah mempercayakan setiap manusia padanya dalam suatu cara yang istimewa. Dan tentu Allah mempercayakan setiap manusia kepada manusia yang lainnya, sehingga kepercayaan menyangkut ibu atau wanita adalah kepercayaan dalam cara yang sungguh istimewa – karena keistimewaan mereka- dan hal ini secara istimewa pula menentukan panggilan mereka.

Sebagaiman perempuan-perempuan yang tampil dalam Kitab Suci, dipanggil dan dipercayakan untuk berkarya bersama Allah. Wanita berharga di mata Allah, seperti juga lakilaki berharga bani Allah. Martabat seorang ibu atau wanita dalam perspektif alkitabiah setara dengan laki-laki, teman yang menolong. Kej 2:18-25 : “Aku akan menjadikan baginya seorang penolong yang sepadan dengannya”. Efesus 5:21-23 : Apa yang bersifat menentukan bagi martabat kaum wanita baik dalam pandangan Allah (pencipta dan penebus) maupun dalam pandangan Allah, justru dalam dan melalui perempuannya, perintah cinta di dalam dunia manusia tercipta dan mendapat akarnya yang pertama. Contoh : pengalaman seorang anak merasakan kehangatan cinta, terbentuknya rasa harga diri seorang anak muncul dari relasi dekatnya dengan ibunya, yang nantinya akan berguna bagi dunia, keluarga, masyarakat dan Gereja.